Home »
Posts filed under SEJARAH
Solo- Rabu 11/12 dalam rangka memeriahkan Festival Sejarah Indonesia, Jurusan Ilmu Sejarah UNS mengadakan seminar nasional di ruang sidang Fakultas Sastra dan Seni Rupa. Seminar yang diikuti oleh dosen, mahasiswa, dan khalayak umum dengan pembicara JJ. Rizal, Heri Priatmoko, dan M. Nazir Salim tersebut mengusung tema
“peran orang desa dibalik perjuangan masyarakat desa dalam melawan kolonial”.
Seminar Dengan berbagai rangkaian acara, seperti:
- Seminar Nasional "Peran Orang-Orang Desa Dibalik Perjuangan Masyarakat Kota Dalam Melawan Kolonial"
- LKTI "Peran Sejarah Dalam Upaya Membentuk Bangsa Yang Berkarakter"
- Lomba dan Pameran Fotografi "Kebudayaan Jawa"
- Bazar Buku
- Bakti Sosial : "Gerakan Bijak Untuk Anak Jalan"
Berhasil menghipnotis para hadirin yang berpartisipasi dalam semua rangkaian acara tersebut. Seperti salah satu gagasan yang telah lama di ketahui oleh semua sejarawan tentang penulisan sejarah “wong cilik” yang di lontarkan oleh Sartono Kartodirjo telah membukakan mata semua sejarawan untuk mengulas tentang bagaimana kehidupan “wong cilik” era kolonial. Salah satu ulasan yang dilontarkan oleh narasumber Heri P, Sejarah orang orang desa “wong deso” yang membantu para gerilyawan perang untuk melawan kolonial Belanda dengan mendirikan dapur umum serta mecukupi kebutuhan bahan makanan selama masa perang. Selain itu juga narasumber yang lain, JJ. Rizal mengusung tema “si Pitung”. JJ. Rizal menggambarkan pula tokoh Minke dalam tetralogi Pulau Buru oleh Pramoedya Ananta Toer sebagai cerminan si Pitung era modern. Peran orang-orang desa atau wong cilik ini sendiri juga diulas oleh M. Nazir lewat sebuah kajian agraria dimana dia menyampaikan jika sebenarnya orang-orang kecil ini termasuk ke dalam kelompok yang tertindas oleh kapitalisme, dimana tanah-tanah kepunyaan kelompok masyarakat desa digerogoti oleh kaum kapitalis secara perlahan yang tentunya merugikan masyarakat desa.[PRO/KINCUP/BSN]
Proliman.com- Apartheid merupakan sistem pemisahan ras yang berlaku di Afrika Selatan dari tahun 1948 – 1994. Hukum Apartheid pertama kali diterapkan sekitar awal abad 20, pada saat Afrika Selatan dikuasai dua bangsa kulit putih, Inggris dan Belanda.
Inggris menguasai wilayah Cape Town dan Namibia dan orang Belanda/orang Boer mendirikan Republik Transvaal (sekarang daerah sekitar Pretoria).
Kedua negara dipersatukan pada 1910 dengan nama Uni Afrika Selatan, yang merupakan Persemakmuran Inggris hingga tahun 1961, ketika negara ini menjadi Republik Afrika Selatan Mei 1948, Partai Nasional yang dipimpin Dr. Daniel Malan memenangkan pemilu dan melaksanakan kebijakannya, yaitu apartheid atau pemisahan ras.
Kota-kota dan permukiman dipisahkan menurut ras. Pendidikan, kesehatan, dan transportasi dipisahkan antara kulit putih dengan kulit hitam. Pernikahan antar ras dilarang di Afrika Selatan. Kebijakan ini menyebabkan pemberontakan dari pihak oposisi, yang didominasi kulit hitam seperti di Sharpville yang menewaskan 67 orang dan di Soweto yang menewaskan 176 orang.
Keadaan ini diakhiri pada tahun 1989, ketika Partai Nasional memilih F.W. de Klerk sebagai pemimpin. Dia melakukan reformasi dan membebaskan tahanan politik, termasuk Nelson Mandela. Nelson Mandela adalah salah satu tokoh politik yang menentang apartheid. Tahun 1956, dia ditangkap dan diasingkan ke Penjara Pulau Robben. Tahun 1990, dia dibebaskan.
Mandela terpilih menjadi pemimpin partai Kongres Nasional Afrika (ANC) pada 5 Juli 1991. Tahun 1994, diadakan pemilu multiras pertama di Afrika Selatan dan Nelson Mandela terpilih menjadi presiden kulit hitam pertama Afrika Selatan.
Mandela menghapus kebijakan apartheid dan melakukan pemerataan dalam bidang politik dan pelayanan masyarakat. Mandela mundur sebagai presiden tahun 1994 dan digantikan Thabo Mbeki. 5 Desember 2013, Mandela meninggal di Johannesburg, Afrika Selatan dalam usia 95 tahun. Nelson Mandela dikenang rakyatnya sebagai Bapak Bangsa Afrka Selatan.
Good Bye my Hero ~ [PRO/EG]
Saat ini mungkin kata Reptil masih terlalu awam bagi sebagian masyarakat di Indonesia. Namun jika disebutkan cicak, tokek, kadal, ular, kura-kura, buaya, mungkin akan beragam tanggapan dimasyarakat. Banyak diantara orang yang tahu tentang binatang yang tadi disebutkan, namun tidak banyak yang tahu bahwa binatang tersebut termasuk dari golongan Reptil.
Sedikit mengulas ke masa lalu, banyak beredar mitos atau legenda dimasyarakat yang berkaitan dengan reptil. Di Kalimantan misalnya, Pada suku Dayak dan suku Banjar, ular Naga dikenal sebagai penguasa bumi, penguasa alam bawah. Diperkuat adanya legenda Naga Erau dan Karang Melanu. Dikisahkan sepasang suami istri yang menemukan seekor ular, setelah dipelihara hingga besar ular tersebut berubah menjadi ular Naga. Yang kemudian berubah menjadi bayi perempuan cantik yang akan menjadi istri dari Aji Batara Agung Dewa Sakti, pendiri dan raja di Kerajaan Kutai Kartanegara.
Di Jawa, mereka juga memiliki mitos Baru Klinting yaitu seekor ular Naga yang menjalani tapa. Ular Naga yang bernama Baru Klinting tersebut kemudian ditangkap penduduk desa dan kemudian dibunuh serta dagingnya disantap oleh penduduk desa. Sang ular Naga tersebut berubah menjadi seorang anak kecil buruk rupa yang meminta minta kepada penduduk. Namun, hanya hinaan serta makian yang anak tersebut dapatkan kecuali seorang nenek renta yang kemudian menolongnya. Anak tersebut kemudian kembali ke desa dan menancapkan sebatang lidi dan anak tersebut nenantang penduduk desa untuk mencabutnya namun tak ada yang bisa. Setelah lidi tersebut dicabut oleh anak tersebut keluarlah air yang kemudian membanjiri seluruh desa dan berubahlah menjadi danau yang dikenal sebagai Rawa Pening. Seperti dalam dunia pewayangan ular naga digambarkan sebagai sosok yang besar dan memiliki mahkota. Ular tersebut merupakan perwujudan dari dewa Sanghyang Naga Antaboga yang kemudian menjadi penguasa dibumi dan memiliki istana di Kahyangan Saptapratala (langit ketujuh).
Sobat Proliman, kembali lagi ke masa kini. Bisa dikatakan semua orang mengenal cicak atau ular, tapi hanya sebagian yang mengenal bermacam jenisnya misalnya orang desa lebih mengenal macam ular yang ada di sawah, rumah, serta kebun mereka. Sementara orang yang hidup dikota hanya mengenal jenis ular kobra atau ular sanca misalnya. Hal itupun juga mereka ketahui dari Kebun binatang atau bahkan hanya dari gambar. Prof. Djoko T. Iskandar, salah satu ahli reptil di Indonesia, mengemukakan bahwa masih banyak masyarakat yang minim pengetahuan tentang reptil khususnya di Indonesia. Misalnya, jenis, perilaku, persebarannya, hingga perkembangbiakannya. Padahal reptil sendiri termasuk bagian dari keanekaragaman hayati, dengan minimnya pengetahuan tentang reptil dari masyarakat serta makin majunya eksploitasi dan juga kerusakan habitatnya. Sangat penting bagi kita saat ini untuk mengenal kekayaan reptil asli Indonesia serta keanekaragamannya sebelum mereka semua hilang apalagi punah. Ya semoga saja anak cucu kita nanti tidak sampai mengenal reptil hanya dari gambar, maupun mitos kalau reptil di Indonesia dulu ada ratusan macam. [PRO/KINCUP]
Proliman.com- Candi Cetho merupakan Candi yang bercorak Hindu yang ditemukan pada tahun 1928 oleh
Dinas Purbakala Hindia Belanda. Berdasarkan keadaannya ketika reruntuhannya mulai diteliti usia Candi Cetho tersebut tidak jauh berbeda dengan Candi Sukuh yang letaknya tidak jauh dari Candi Cetho. Lokasinya berada di desa Cetho, kecamatan Jenawi, Kabupaten Karanganyar dengan ketinggian 1400Mdpl.
Candi yang terletak disebelah utara lereng Gunung Lawu tersebut tidak hanya digunakan untuk tempat wisata saja, melainkan digunakan untuk tempat beribadah juga bagi umat Hindu. Wisata di wilayah ini ternyata juga terdapat obyek wisata lainnya seperti Patung Puri Saraswati dan juga Candi Kethek yang terletak 300 meter dari Candi Cetho. Candi yang terletak kurang lebih 60KM dari Kota Solo ini dapat ditempuh dengan lama perjalanan kira-kira 2 jam dengan sebelumnya melewati wilayah kabupaten karanganyar, dan kemudian dilanjut dengan perkebunan teh. Ketika sampai di obyek wisata ini, kita juga disuguhkan pemandangan yang sangat indah karena Candi Cetho terletak di tempat yang tinggi, sehingga dapat melihat pemandangan yang luas seperti kebun teh, dan daerah-daerah didekatnya seperti halnya Kemuning, karangpandan, karanganyar, dan Sragen.
Setiap harinya wisata Candi Cetho ini ramai didatangi pengunjung, mulai dari pengunjung domestik, maupun turis asing. Tiket masuk ke Candi Cetho ini tergolong cukup terjangkau Rp.3000 untuk pengunjung Lokal, dan Rp. 10.000 untuk Turis Asing. Setiap harinya memang pengunjung disini tidak pernah sepi, apalagi diwaktu akhir pekan obyek wisata disini sangat ramai, terang Priyono (23) warga Desa Cetho, sekaligus pengelola Parkir dan Homestay di sekitar obyek wisata tersebut saat berbincang-bincang dengan tim Proliman, senin (2/11). Ia juga menambahkan, walau cuaca mendung, hujan ataupun berkabut, namun wisata obyek Candi Cetho ini tetap saja didatangi oleh pengunjung yang ingin berekreasi. Tim Redaksi Proliman juga sempat berbincang-bincang dengan salah satu pengunjung Reno Haryanto (25) pengunjung asal Purwokerto bersama beberapa rekannya, ia tidak hanya berwisata di Candi Cetho saja, melainkan ia juga sehabis camping disekitar wilayah hutan Candi Kethek. Wilayah Candi Cetho ini juga merupakan tempat basecamp jalur pendakian Gunung Lawu melalui Jalur utara.[PRO/DN]
Proliman.com- Tahukah anda hari ini merupakan hari besejarah bagi masyarakat Uni Emirat Arab ? ya, tepat hari ini (02/12) merupakan peringatan dari hari kemerdekaan Uni Emirat Arab dari Protektorat Inggris.
Hari ini biasa disebut hari Negara Trucial dan penyatuan 7 Emirat serta pembentukan negara modern berbentuk federal pada 02 Desember 1971 yang lalu. Awalnya Bahrain dan Qatar ingin digabungkan dalam federasi ini, namun gagal dan memilih merdeka sendiri. Ketujuh Negara bagian Emirat tersebut yaitu Abu Dhabi, Dubai, Ajman, Sharjah, Fujairah, Umm al Quwain dan terakhir Emirat Ras al Khaimah yang baru bergabung pada 11 Februari 1972 atau beberapa bulan kemudian setelah deklarasi.
Setelah 42 tahun merdeka Uni Emirat Arab saat ini di tingkat regional maupun tingkat internasional berhasil menempati status pionir terkemuka di peta negara yang paling progresif, makmur dan stabil di dunia seperti yang dilansir emirates247.com.
Selain berhasil menempati status pionir terkemuka, Uni Emirat Arab juga berhasil menjamin pelayanan kesehatan yang lebih baik dari sebelumnya, pasalnya ditahun 2013 ini pemerintah menganggarkan dana sebesar AED3.4 miliar khusus untuk menjamin pelayanan kesehatan.
Selamat dan sukses untuk hari jadi Uni Emirat Arab yang ke-42. [PRO/EG]
Editor : Tim Redaksi Proliman.com
Proliman.com- Jika mendengar kata Amerika Serikat, tentu nama George Washington tak asing lagi di telinga kita. Pria kelahiran 22 Februari 1732 dan meninggal 14 Desember 1799 ini yang kita ketahui merupakan presiden pertama United States of America atau yang sering disebut-sebut sebagai Bapak Bangsa Amerika dengan masa tugas antara tahun 1789-1797.
Sejauh ini di banyak buku-buku pengetahuan di seluruh dunia sering mencatat dan menyebut jabatan George Washington sebagai The First President of USA. Namun tak banyak orang yang tahu bahwa presiden pertama Amerika bukanlah Washington. Masih ada 8 tahun dan 6 presiden yang menjabat menjadi presiden sebelumnya.
Sebenarnya, sebelum Washington dikenal di seluruh dunia sebagai presiden, ia memiliki jabatan sebagai komandan tertinggi Continental Army dalam perang melawan Inggris. Pada Revolusi Amerika Serikat, Kongres Kontinental memilih Peyton Randolph sebagai Presiden pertama. Randolph digantikan pada 1781 oleh John Hanson, yang memimpin kemerdekaan dari Britania Raya. Setelah Washington mengalahkan Inggris dalam Pertempuran Yorktown, Hanson mengirimkannya surat ucapan selamat. Balasan dari Washington dikirimkan kepada “The President of the United States”. Enam orang Presiden Amerika Serikat berikutnya berkuasa masing-masing selama satu tahun sampai Kongres mengganti Artikel Konfederasi dengan Konstitusi Amerika pada tahun 1789.
Pada tahun 1789-lah, sebagai pahlawan perang, Washington sendiri menjadi Presiden yang terpilih langsung pertama di Amerika secara demokrasi, Namun sekaligus Washington menjadi presiden ke 7 bila sejarah juga mencatat para Presiden Kongres Kontinental. Sebagai salah satu The Founding Father of USA, kini namanya di abadikan sebagai nama ibukota negara Amerika Serikat, Washington DC. [Pro/Del]
Hukuman adalah ganjaran bagi mereka yang terbukti melakukan kesalahan, terutama yang terdapat pada kasus-kasus pidana. Di dunia ini terdapat bermacam-macam hukuman untuk para terdakwa kasus, baik itu hukuman yang hanya akan membuat efek jera hingga hukuman yang menghilangkan nyawa (hukuman mati). Hukuman mati yang masih diaktifkan hingga sekarang adalah hukum pancung atau penggal kepala. Mengerikan memang, namun tahukan Anda, ternyata sejarah dari hukum pancung tersebut sangatlah panjang dan sulit diperkirakan asal-usulnya.
Di Inggris ada anggapan, bahwa hukuman pancung merupakan hak istimewa para terhormat. Hukuman pancung berlaku di Inggris sampai dengan tahun 1747 dan merupakan metode hukuman mati standar di Norwegia sampai saat dihapuskan pada tahun 1905, Swedia (sampai tahun 1903), Denmark (sampai tahun 1892), dan digunakan untuk beberapa kelas tahanan di Prancis (sampai penggunaan Guillotine di tahun 1792), serta di Jerman sampai dengan tahun 1938.
Pada hukuman pancung, terdakwa yang akan dieksekusi biasanya ditutup matanya, sehingga mereka tidak dapat melihat pedang atau kapak yang datang menebas leher mereka, agar mereka tidak dapat menghindar. Hasil dari eksekusi ini adalah pendarahan yang hebat di leher karena arteri dan vena yang terputus.
Eksekusi pancung bisa dikatakan sebagai hukuman mati yang manusiawi jika dilakukan dengan benar karena hanya dibutuhkan satu tebasan dalam pemenggalan. Dalam beberapa detik sudah dipastikan terdakwa telah meninggal, bandingkan dengan hukuman mati yang lain seperti hukum gantung. Hukum gantung memerlukan lebih banyak waktu untuk membuat terdakwa menghembuskan nafas terakhirnya. Cara digantung seperti itu akan membuat yang dieksekusi merasa tersiksa terlebih dahulu dan terkesan tak mausiawi.
Dibalik pengeksekusian yang sempurna, tentuya ada seorang eksekutor yang telatih. Mereka disebut sebagai algojo pancung yang tidak boleh memiliki rasa iba terhadap orang yang akan dipancungnya. Hukuman pancung secara luas digunakan di Eropa dan Asia sampai abad ke-20. Semua negara-negara Eropa yang sebelumnya menggunakan hukuman pancung, sekarang telah benar-benar menghapuskan metode hukuman mati dengan cara ini. Dan saat ini, hanya Arab Saudi dan Iran yang masih menggunakan metode hukuman mati seperti ini. Qatar dan Yaman pun sebenarnya melegalkan hukuman mati dengan metode seperti ini, namun sampai saat ini belum ada eksekusi dengan metode ini yang dilaporkan.[PRO/DEL]
Proliman.com- Pasar malam merupakan hiburan rakyat, terlebih hiburan untuk semua kalangan baik dari kalangan elit maupun kalangan kelas menengah ke bawah sekalipun. Pasar malam sendiri adalah sebuah arena jual-beli yang diselenggarakan pada petang hingga malam hari, dimana biasanya diadakan beberapa macam hiburan untuk meramaikan acara tersebut. Namun, tahu kah anda bahwa Pasar Malam Pertama yang hadir di Indonesia itu terdapat di daerah mana?
Pasar malam pertama hadir pada masa kolonial, tepatnya di daerah Batavia (sekarang Jakarta). Pada awal abad 20 sebenarnya banyak sekali festival yang pernah hadir di Batavia namun, kebanyakan ber-aromakan unsur-unsur keagamaan. Hal ini ternyata membuat pemerintah kolonial setempat untuk membuat sebuah festival dalam bentuk pasar malam yang dikenal dengan Pasar Gambir. Nama Pasar Gambir itu sendiri diambil dari lokasinya yang berada di daerah Lapangan Gambir. Alasan pembentukan Pasar Gambir ini sendiri dalam rangka memperingati hari kelahiran Ratu Wilhelmina penguasa Belanda ketika itu yang jatuh pada tanggal 31 Agustus. Selain itu pula pemerintah kolonial juga beralasan pembentukan Pasar Gambir ini juga dalam rangka memperingati penobatan Ratu Wilhelmina yang merupakan nenek dari Ratu Beatrix, pada tahun 1898.
Pada awalnya Pasar Gambir diadakan dalam waktu satu pekan saja namun, karena banyaknya antusiasme warga Batavia terhadap pesta rakyat tersebut maka pemerintah Belanda menambah acara tersebut menjadi dua pekan, yakni pada pekan terakhir bulan Agustus hingga pekan pertama bulan September. Pasar Gambir yang hadir mempunyai maksud untuk meningkatkan perekonomian di Kota Batavia dengan mengadakan promosi barang-barang industri yang nantinya akan menimbulkan daya beli yang tinggi dari masyarakat Batavia itu sendiri. Selain tujuan ekonomi, Pasar Gambir juga menyediakan sarana rekreasi serta hiburan untuk masyarakat Batavia yang diantaranya pertunjukkan sulap, carrousel (komidi putar) dan American Carnaval Show. Selain hiburan juga ada arena permainan di dalamnya seperti permainan panjat-panjatan yang bisa dibilang hampir mirip dengan permainan Panjat Pinang, lalu ada juga permainan olahraga bola kasti dan sepak bola serta permainan lainnya. Namun, satu hal kerap ditunggu-tunggu masyrakat Batavia kala itu adalah pesta kembang api yang meriah, yang dilakukan setiap akhir Pasar Gambir itu sendiri. Kembang api-kembang api ini sendiri diambil dari Pabrik Kembang Api Gorz di Krukut dan Lauw Kang Boen di Angke.
Sarana hiburan yang semacam Pasar Gambir ini tentunya amatlah berkesan bagi warga Batavia kala itu, meski begitu Pasar Gambir harus berakhir ketika bangsa Jepang datang ke Indonesia pada tahun 1942. Keberadaan Pasar Gambir ini pun ternyata juga membuat pasar malam dan sarana hiburan lain berkembang di daerah di luar Batavia, seperti Jaarbeurs (bursa tahunan) di Bandung dan Jaarmarkt (pasar tahunan) di Surabaya. Pasar Gambir juga merupakan cikal-bakal lahirnya Jakarta Fair atau Pekan Raya Jakarta yang menjadi gagasan dari Gubernur Ali Sadikin di tahun 1968. [PRO/GAL]
Proliman.com- Sejarah memang menarik untuk selalu diperbincangkan apalagi untuk dikaji dan diikuti perjalanannya. Selalu menghadirkan pengetahuan baru yang sebelumnya sama sekali tidak terlintas dalam pikiran. Penemuan-penemuan sejarah misalnya selalu menghadirkan decak kagum bagi yang mengikutinya.
Dalam rangka untuk semakin memberi pemahaman tentang sejarah, Forum Mahasiswa Sejarah FSSR UNS menggelar Festival Sejarah dengan mengangkat tema “Membentuk Karakter Bangsa melalui Sejarah”. Agenda Festival sejarah ini akan digelar pada rabu tanggal 11 Desember 2013 mendatang, bertempat di ruang seminar gedung 3 Fakultas sastra dan seni rupa, Universitas Sebelas Maret Surakarta.
Dalam agenda Festival Sejarah tersebut akan digelar seminar nasional yang menghadirkan beberapa pembicara, seperti ; JJ. Rizal seorang sejarawan Indonesia, Heri Priyatmoko seorang sejarawan komunitas tepi kota, serta M. Nazir Salim seorang peneliti sejarah. Seminar nasional ini sendiri bertajuk “Peran Orang-orang Desa Dibalik Perjuangan Masyarakat kota dalam Melawan Kolonial”.
Selain seminar nasional, dalam agenda Festival tersebut juga akan digelar beberapa lomba. “lomba karya tulis ilmiah dan lomba serta pameran fotografi tingkat mahasiswa se-Jateng dan DIY juga akan turut memeriahkan festival sejarah” ungkap ketua umum FMS yang akrab disapa Nisa ketika berbincang dengan proliman.com.
“Melalui kegiatan Festival Sejarah ini kita sebagai penyelenggara sangat berharap nantinya kegiatan ini akan menambah pemahaman mengenai sejarah Indonesia pada umumnya, dan juga memberikan pengertian tentang karakter bangsa, serta wahana untuk menambah wawasan dalam sejarah” pungkasnya. [PRO/NAR]
proliman.com- Capoeira merupakan beladiri yang berasal dari negara brazil dimana dalam perkembangannya sangat pesat hingga sampai diseluruh dunia, unsur filosofi dan gaya akrobatik yang khas membuat banyak orang tertarik untuk belajar beladiri capoeira ini. Dari segi historis capoeira dikembangkan oleh para budak-budak afrika di brazil untuk bertahan hidup dari jajahan bangsa portugis di kala itu. capoeira yang terlihat hanya seperti tarian itulah yang menjadikan capoeira beladiri yang unik, dimana pada saat itu segala macam beladiri dilarang, maka mereka capoeirista (pemain capoeira) menyembunyikan gerakan gerakan beladiri dengan tarian-tarian.
Dalam permainan capoeira biasanya diiringi oleh musik seperti berimbau, pandeiro, dan atabaque. ketiga alat ini adalah alat musik pukul yang digunakan untuk mengiringi permainan capoeira dengan beberapa pemain capoeira yang lain duduk membuat lingkaran melingkari dua pemain yang sedang bermain didalamnya. Lingkaran ini diibaratkan sebagai dunia. Dan bateria (pemain musik) adalah yang mengiringi/memimpin jalannya capoeira.
Di kota solo juga terdapat sekumpulan komunitas yang belajar capoeira. Mereka tidak hanya belajar gerakan gerakan capoeira saja, namun, mereka mempelajari aspek-aspek yang ada dalam capoeira itu sendiri, menurut Bangun (25) banyak hal yang bisa dipelajari dari capoeira selain gerakan gerakan saja, misalnya, musik, filosofi, dan sejarah mengenai capoeira itu sendiri. Kami tidak hanya belajar gerakan-gerakan capoeira saja, tetapi kami juga belajar bahasa yaitu brazillian portugis, tutur Bangun pemimpin kelas capoeira di solo. Ia juga menambahkan bahwa eksistensi beladiri capoeira ini untuk di wilayah solo sudah ada sejak tahun 2004 lalu, yang semula capoeira di surakarta dikembangkan oleh kebanyakan mahasiswa ISI Surakarta. Komunitas ini bertempat latihan di pendopo Taman Budaya Jawa Tengah setiap hari senin dan rabu jam 4 sore. Saat ini komunitas tersebut merupakan bagian dari dewan kesenian surakarta, artinya kesenian capoeira tersebut juga diakui oleh kalangan seniman disurakarta. Hingga sampai saat ini anggota yang aktif mencapai 20 orang yang terdiri dari banyak kalangan anak-anak, dan remaja. [PRO/DN]
Kota merupakan kawasan pemukiman yang secara fisik ditunjukkan oleh kumpulan rumah-rumah yang mendominasi tata ruangnya dan memiliki berbagai fasilitas untuk mendukung kehidupan warganya secara mandiri. Adalah Surakarta atau lebih dikenal dengan Solo, yang merupakan sebuah kota budaya dan bisa disebut sebagai jantungnya Jawa Tengah. Menurut Susanto dalam artikelnya yang berjudul Jati Diri Kota Solo, umumnya kota terbentuk dari sebuah desa, namun tidak semua desa dapat berkembang menjadi kota. Desa dapat berkembang menjadi kota apabila tempat itu menjadi pusat pemerintahan, perdagangan, industri, atau pusat pertambangan. Modernitas tentunya tak bisa ditinggal oleh yang namanya listrik.
Listrik di kota Solo memliki peran penting dalam perkembangannya dari abad 17 hingga abad 20. Solo juga dipacu untuk terus menjadi kota yang sebenarnya dengan cara melakukan modernisasi. Dimulai dari Pakubuwono II sampai dengan Pakubuwono X bahwa setiap raja pasti memberikan konstribusi terhadap perkembangan kota sesuai dengan kebijakannya masing-masing. Masa paling menonjol yaitu pada pemerintahan Pakubuwono X, dimana beliau telah melakukan pembangunan kota secara besar-besaran di Solo yang dimulai dengan usaha untuk menghidupkan kota di waktu malam hari.
Seperti yang tercantum dalam Babad Sala, Tempo dulu, Kota Solo pada malam hari suasananya gelap karena kurangnya penerangan. Saat itu, yang digunakan untuk penerangan hanyalah lampu ting, yaitu lampu teplok yang memakai semprong yang disatukan dengan tempat yang terbuat dari seng, berbentuk persegi dan memakai kaca. Lampu ting ini dipasang dengan cara digantung di sepanjang jalan yang dianggap ramai. Kala itu, setiap seratus meter dipasang lampu satu. Lampu yang sinarnya remang-remang itu dinyalakan oleh abdi delem kraton mulai pukul 18.00 hingga 06.00. Namun, ketika musim penghujan datang banyak lampu yang mati lantaran kena air hujan atau tertiup angin.
Kondisi yang demikian itulah yang menyebabkan pemerintah kolonial mengkomandoi pembesar kerajaan pada tahun 1902 yaitu Pakubuwono X, Mangkunegara VI, serta para hartawan kerajaan untuk mendirikan sebuah perusahaan yang diberi nama Solosche Electricitiets Maatschappij (SEM) atau Perusahaan Listrik Solo. Langkah awalnya yaitu mengupayakan mesin pembangkit listrik menggunakan mesin diesel yang diletakkan di dekat stasiun Nederlandsch Indische Spoorweg Maatschappij (NIS) di Purwosari. Biaya pengadaan mesin diesel tersebut ditanggung bersama oleh ketiga pembesar kerajaan yang telah disebutkan tadi.
Dengan sentuhan listrik yang ada pada jaman itu membawa Solo mendapat predikat sebagai kota yang tak pernah tidur. Dikarenakan banyak bermunculan hibura-hiburan malam seperti pasar malam, bioskop, serta tempat-tempat pesta untuk para meneer dan noni Belanda. Walaupun Solo awalnya hanyalah sebuah desa terpencil, namun berkat adanya polesan dari beberapa pemimpin yang bertanggung jawab dan berwawasan maju, Solo pada jaman itu pun berubah menjadi Solo yang kota. Modernisasi yang telah menyulap Solo kuno di sekitar ratusan tahun yang lalu mampu membuat masyarakatnya beradaptasi dengan kemajuan jaman. [Pro/Del]