Proliman lahir ditengah-tengah gempuran jaman yang serba digital, serba penuh tantangan, maka melalui slogan membuka wawasan dengan berbagai sudut pandang dapat mengajak masyarakat menilai, berfikir kritis serta membuka wawasan seluas-luasnya dengan berbagai sudut pandang.
Tampilkan postingan dengan label PROFIL. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label PROFIL. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 07 Desember 2013

Apartheid dan Mandela

Proliman.com- Apartheid merupakan sistem pemisahan ras yang berlaku di Afrika Selatan dari tahun 1948 – 1994. Hukum Apartheid pertama kali diterapkan sekitar awal abad 20, pada saat Afrika Selatan dikuasai dua bangsa kulit putih, Inggris dan Belanda. 

Inggris menguasai wilayah Cape Town dan Namibia dan orang Belanda/orang Boer mendirikan Republik Transvaal (sekarang daerah sekitar Pretoria).

Kedua negara dipersatukan pada 1910 dengan nama Uni Afrika Selatan, yang merupakan Persemakmuran Inggris hingga tahun 1961, ketika negara ini menjadi Republik Afrika Selatan Mei 1948, Partai Nasional yang dipimpin Dr. Daniel Malan memenangkan pemilu dan melaksanakan kebijakannya, yaitu apartheid atau pemisahan ras.

Kota-kota dan permukiman dipisahkan menurut ras. Pendidikan, kesehatan, dan transportasi dipisahkan antara kulit putih dengan kulit hitam. Pernikahan antar ras dilarang di Afrika Selatan. Kebijakan ini menyebabkan pemberontakan dari pihak oposisi, yang didominasi kulit hitam seperti di Sharpville yang menewaskan 67 orang dan di Soweto yang menewaskan 176 orang. 

Keadaan ini diakhiri pada tahun 1989, ketika Partai Nasional memilih F.W. de Klerk sebagai pemimpin. Dia melakukan reformasi dan membebaskan tahanan politik, termasuk Nelson Mandela. Nelson Mandela adalah salah satu tokoh politik yang menentang apartheid. Tahun 1956, dia ditangkap dan diasingkan ke Penjara Pulau Robben. Tahun 1990, dia dibebaskan. 

Mandela terpilih menjadi pemimpin partai Kongres Nasional Afrika (ANC) pada 5 Juli 1991. Tahun 1994, diadakan pemilu multiras pertama di Afrika Selatan dan Nelson Mandela terpilih menjadi presiden kulit hitam pertama Afrika Selatan. 

Mandela menghapus kebijakan apartheid dan melakukan pemerataan dalam bidang politik dan pelayanan masyarakat. Mandela mundur sebagai presiden tahun 1994 dan digantikan Thabo Mbeki. 5 Desember 2013, Mandela meninggal di Johannesburg, Afrika Selatan dalam usia 95 tahun. Nelson Mandela dikenang rakyatnya sebagai Bapak Bangsa Afrka Selatan. 
Good Bye my Hero ~ [PRO/EG]

Sabtu, 30 November 2013

George Washington (bukan) Presiden Pertama USA

Proliman.com- Jika mendengar kata Amerika Serikat, tentu nama George Washington tak asing lagi di telinga kita. Pria kelahiran 22 Februari 1732 dan meninggal 14 Desember 1799 ini yang kita ketahui merupakan presiden pertama United States of America atau yang sering disebut-sebut sebagai Bapak Bangsa Amerika dengan masa tugas antara tahun 1789-1797.

Sejauh ini di banyak buku-buku pengetahuan di seluruh dunia sering mencatat dan menyebut jabatan George Washington sebagai The First President of USA. Namun tak banyak orang yang tahu bahwa presiden pertama Amerika bukanlah Washington. Masih ada 8 tahun dan 6 presiden yang menjabat menjadi presiden sebelumnya.

Sebenarnya, sebelum Washington dikenal di seluruh dunia sebagai presiden, ia memiliki jabatan sebagai komandan tertinggi Continental Army dalam perang melawan Inggris. Pada Revolusi Amerika Serikat, Kongres Kontinental memilih Peyton Randolph sebagai Presiden pertama. Randolph digantikan pada 1781 oleh John Hanson, yang memimpin kemerdekaan dari Britania Raya. Setelah Washington mengalahkan Inggris dalam Pertempuran Yorktown, Hanson mengirimkannya surat ucapan selamat. Balasan dari Washington dikirimkan kepada “The President of the United States”. Enam orang Presiden Amerika Serikat berikutnya berkuasa masing-masing selama satu tahun sampai Kongres mengganti Artikel Konfederasi dengan Konstitusi Amerika pada tahun 1789.

Pada tahun 1789-lah, sebagai pahlawan perang, Washington sendiri menjadi Presiden yang terpilih langsung pertama di Amerika secara demokrasi, Namun sekaligus Washington menjadi presiden ke 7 bila sejarah juga mencatat para Presiden Kongres Kontinental. Sebagai salah satu The Founding Father of USA, kini namanya di abadikan sebagai nama ibukota negara Amerika Serikat, Washington DC. [Pro/Del]

Sabtu, 09 November 2013

Lady Diana

Ningrat adalah golongan yang mulia atau bisa juga berarti bangsawan dan orang-orang yang masih keturunan langsung dengan sebuah keluarga kerajaan. Golongan ini secara tidak langsung menempati kasta tertinggi “ras” manusia di dunia ini dari jaman dulu hingga sekarang. Menilik di jaman sekarang masih banyak negara-negara di dunia yang berbentuk monarkhi. Itu artinya mereka sebagai golongan ningrat masih mampu untuk menurunkan dan mengembangkan “ras” nya. Banyak masyarakat awam yang menganggap apabila bisa masuk ke dalam kelompok ini maka hidupnya akan lebih dari kata nyaman dan bergelimang harta serta akan dipuja-puja oleh banyak orang. Namun sepertinya pernyataan itu tidak berlaku bagi seorang Lady Diana.

Mari kita flashback ke tahun 1981 ketika seorang Pangeran Negri Britania Raya meminang seorang wanitanya bernama Diana. Pangeran Charles, putra sulung dari Ratu Inggris Elizabeth II dan Raja Philip melamar Diana Spencher, seorang Putri dari Wales. Diana adalah anak dari Edward John Spencher yang merupakan keturunan Raja Charles II Inggris melalui empat anak laki-laki yang tidak sah, begitu juga dengan leluhur ibu Diana yang merupakan peranakan dari keluarga kaya raya berdarah Amerika. Dari garis keturunan inilah posisi Diana bisa dibilang hanya sebagai rakyat biasa.
Pada awal kehidupannya sebagai seorang istri sekaligus Putri kerajaan, berjalan dengan baik dan bahagia. Kebahagiaan itupun tambah lengkap dengan hadirnya dua Pangeran cucu kerajaan, Pangeran William Arthurs Philip Louis dan adiknya, Pangeran Harry Charles Albert David. Namun di sekitar tahun 1990an merupakan titik puncak sekaligus akhir dari dongeng Diana. Dimana mulai muncul berbagai keretakan rumah tangganya baik dari internal maupun eksternal. Dari segi eksternal datang dari pers dan paparazi yang menyebarkan isu bahwa Lady Diana hanyalah seorang wanita biasa yang memanfaatkan harta kerajaan untuk mengglamourkan dirinya dengan memakai baju yang dirancang oleh desainer ternama pada waktu itu. Sedangkan dari faktor internalnya adalah kelakuan dari keluarga kerajaan sendiri terutama dari mertuanya Ratu Elizabeth II. Selama hidup di Buckhingham Palace, Lady Diana selalu mendapatkan kekejaman dan tekanan batin dari Sang Ibu Suri yang memang dari awal tak pernah menyetujui Diana sebagai menantu kerajaan. Rasa batin yang pahit tersebut ditambah lagi dengan ulah suaminya, Pangeran Charles yang ternyata mencoba untuk kembali kepada cinta masa lalunya, Camilia Parker. Seolah-olah seperti telah terskenario sebelumnya.

Ini merupakan pukulan telak bagi Lady Di. Semua rasa sakit hatinya disimpan dalam dan apa yang dilakukan Lady Diana? Putri Diana tetap menampilkan senyum khasnya di depan pers dan publik dunia. Seolah-olah mengatakan kepada semuanya bahwa tak pernah terjadi apa-apa dalam dirinya dan kerajaan. Lady Di lantas bercerai dengan Pangeran Charles pada 28 Agustus 1996 dan menemukan yang baru, Dodi Al Fayed seorang producer dan milyuner asal Mesir. Diana yang berharap dongengnya kini dengan Dodi Al Fayed bisa happily ever after ternyata berujung menjadi sebuah bencana yang merenggut nyawa keduanya. Lewat sebuah kecelakaan di Paris ketika mereka tengah berlibur pada 31 Agustus 1997. Berbagai pihak beranggapan bahwa kerajaan Inggrislah yang bertanggung jawab dengan relikui kematian Lady Di itu. Berbagai teori konspirasi juga muncul seperti sabotase rem dan sabuk pengaman di mobil yang ditumpangi oleh Lady Di yang dilakukan oleh gabungan badan intelejen Inggris dan Perancis. Semua itu dilatar belakangi karena kedekatan Diana dengan Al Fayed yang segera akan berlanjut ke jenjang pernikahan.

Kepergian Lady Diana turut mengundang hujan air mata di berbagai belahan dunia, khususnya rakyat jelata. Putri Diana adalah seorang Putri kerajaan yang terjun langsung dan membaur dengan rakyat jelata untuk mengajarkan mereka arti keseimbangan antara teori dan praktek dalam kehidupan. Menjadi seorang wanita dengan 3 peran yang berbeda itu tidaklah mudah. Menjadi seorang istri, ibu, dan publik figur dunia, ketiganya telah berhasil ditembus oleh Diana walaupun diujungnya dia gagal dalam menuntaskannya. Dari sini kita bisa mengambil sebuah keteladanan dari seorang Lady Diana dimana dia tetap terlihat sebagai wanita yang tegar meski guncangan batin menghujamnya berkali-kali. Bertahun-tahun telah berlalu namun wujud kecantikan natural, kesederhanaan dan senyuman khasnya tak pernah dimakan jaman dan akan terus dikenang sebagai seorang Lady. [Pro/Del]


Pasang Iklan Anda Disini

 

About Us | Kontak | Redaksi